Berangkat pagi dengan perasaan baru, perasaan yg seolah tak mengenal takut pada dunia. Akhirnya sampailah daku di kampus tercinta yg telah kudiami selama hampir 6 tahun, sampai-sampai sudah hampir diusir(baca: D.O) karena tidak mengurangi populasi yg sudah cukup sesak di kampus yg dikenal sebagai kampus biru ini.
Segenap rencana sudah dipersiapkan ditangan, namun lacur di tempat yg dimana biasa bernaung lebih tepatnya seh berinternet ria yaitu SDC tidak bisa dipakai karena kabel roll yg menghubungkan daya listrik ke CPU mengalami konsleting. Segera aku urungkan niatku dan bergegas ke rencana alternatif yaitu Perpus FISIP UI tuk berinternet ria. Sebenarnya saat itu aku gak enak juga sama syifa yg kemungkinan bakal mencariku di SDC, tapi daripada membuang waktu tuk menunggu lebih baik segera bertindak. Sayang di perpus FISIP yg sekarang bernama Miriam Budiardjo Research Center(MBRC), fasilitas komputer yg tersedia tidak bisa terhubung ke USB dan tidak menyediakan program Word yg biasa digunakan oleh mahasiswa untuk mengetik tugas-tugasnya.
Siang hari, bosan juga berada di perpus terus. Aku kemudian pergi ke salah satu tempat nongkrong favoritku yaitu Comic Center yg terletak tak jauh dari tempat jajanan tempe medoan dan menu minuman dgn nama2 yg cukup seram seperti es Pocong. Yups, di situ aku membaca dua komik cinta yg baru terbit Story of Malisa 2 dan Bus stop for Spring 4 karyaUsami Maki.
Sekitar jam 2 siang, aku kembali ke perpus FISIP. Tentunya dengan memasang muka badak, karena mungkin aku satu2nya mahasiswa tua yg memakai fasilitas itu cukup lama. Saat itu aku habiskan waktu dengan membuat blog ini, dan juga berupaya membuat slogan tentang kebersihan tuk dikutkan lomba yg diadakan berkahsampah.blogspot.com yg berhasil aku kirim 10 menit sebelum deadline penyerahan.
Setelah itu aku coba kumpulkan keberanian tuk posting ke milis sosio_2k2@yahoogroups.com, heran juga, setelah dicek, ternyata aku sudah dikeluarkan dari keanggotaan milis tersebut. Aku tahu apa alasannya jika melihat topik2 yg dibicarakan akhir2 ini. Segera ku posting, setelah memutuskan urat malu yg selama ini menghalangiku tuk maju. Seneng juga tak lama berselang, aku dapat tanggapan positif dari teman2 sperti aad, sania en yuan. Memang belum ada draftnya, tapi aku menjadi lebih semangat lagi tuk menatap esok hari.
Segenap rencana sudah dipersiapkan ditangan, namun lacur di tempat yg dimana biasa bernaung lebih tepatnya seh berinternet ria yaitu SDC tidak bisa dipakai karena kabel roll yg menghubungkan daya listrik ke CPU mengalami konsleting. Segera aku urungkan niatku dan bergegas ke rencana alternatif yaitu Perpus FISIP UI tuk berinternet ria. Sebenarnya saat itu aku gak enak juga sama syifa yg kemungkinan bakal mencariku di SDC, tapi daripada membuang waktu tuk menunggu lebih baik segera bertindak. Sayang di perpus FISIP yg sekarang bernama Miriam Budiardjo Research Center(MBRC), fasilitas komputer yg tersedia tidak bisa terhubung ke USB dan tidak menyediakan program Word yg biasa digunakan oleh mahasiswa untuk mengetik tugas-tugasnya.
Siang hari, bosan juga berada di perpus terus. Aku kemudian pergi ke salah satu tempat nongkrong favoritku yaitu Comic Center yg terletak tak jauh dari tempat jajanan tempe medoan dan menu minuman dgn nama2 yg cukup seram seperti es Pocong. Yups, di situ aku membaca dua komik cinta yg baru terbit Story of Malisa 2 dan Bus stop for Spring 4 karyaUsami Maki.
Sekitar jam 2 siang, aku kembali ke perpus FISIP. Tentunya dengan memasang muka badak, karena mungkin aku satu2nya mahasiswa tua yg memakai fasilitas itu cukup lama. Saat itu aku habiskan waktu dengan membuat blog ini, dan juga berupaya membuat slogan tentang kebersihan tuk dikutkan lomba yg diadakan berkahsampah.blogspot.com yg berhasil aku kirim 10 menit sebelum deadline penyerahan.
Setelah itu aku coba kumpulkan keberanian tuk posting ke milis sosio_2k2@yahoogroups.com, heran juga, setelah dicek, ternyata aku sudah dikeluarkan dari keanggotaan milis tersebut. Aku tahu apa alasannya jika melihat topik2 yg dibicarakan akhir2 ini. Segera ku posting, setelah memutuskan urat malu yg selama ini menghalangiku tuk maju. Seneng juga tak lama berselang, aku dapat tanggapan positif dari teman2 sperti aad, sania en yuan. Memang belum ada draftnya, tapi aku menjadi lebih semangat lagi tuk menatap esok hari.